« April 2007 | Main | June 2007 »

jam 2

Hari ini pulang malam, habis ketemu temen, ngobrol panjang di plaza semanggi. Sampai lampu dimatikan, baru beranjak pulang.

Masuk tol, rada-rada ngebut. Meskipun, yah, nggak seperti dulu. Kalau dulu bener-bener nggak mungkin ada APV yang mendahului gua. Tapi tadi kok bisa-bisanya yah? Hehehe... Dulu perasaan hanya mobil merk tertentu yang bisa mendahului gua di tol. Kalau di Cipularang, paling hanya 2-3 mobil. Maklumlah, selain masalah mesin, juga masalah nekad. Dulu pernah dari TB Simatupang ke Menara Mulia, ditempuh dalam waktu belasan - dua puluhan menit. Tentunya waktu itu subuh, dan belum ada jalur bus way.

Sekarang mendekati jam 2. Habis browsing-browsing nyari lowongan pekerjaan buat temen. Tapi jadinya malah download, download, download. Habis gimana? Rasanya dia ini sih mendingan kerja freelance aja. Apalagi pasti banyak sarana sekarang ini. Dulu ada eLance.com, barusan aku lihat ada directfreelance.com. Atau pasang aja iklan di koran, "kursus 'ini' atau 'itu'". Atau ikut sayembara. Atau bikin-bikin produk buat dijual, bisa kerajinan yang lucu-lucu atau yang serem-serem, bisa karya seni, bisa juga buku cerita anak-anak (atau komik dewasa sekalian? di Internet pasti cepet laku.. hehe..). Atau kerja yang butuhnya 2% keakhlian, 49% kegigihan, 49% tahan malu. Atau jualan teh botol saja. Banyak pilihan kok.

Kreatif-kreatif lah melakukan problem solving, tinggal analisis mana yang mau diambil, lalu bulatkan tekad.

[kenapa kok 'bulat'? tidak 'kotak'? karena bulat itu dianggap sempurna, o'on!]

Sekarang sudah lewat sedikit dari jam 2. Download sudah selesai, menulis blog sebentar lagi juga selesai. Looking at my pictures... I am so happy with my life. Hanimun 2 dan 3 sudah ada di blog ini. Hanimun 1 belum sempat dicopy, masih ada di http://chacoep.weddingpath.com/89591.

Kadang, resikonya jadi orang bahagia, memang berat: ada aja yang sirik ;-)

[apalagi kalau di kantor... wuiiiiiih... tahu sendiri deeeeh... gitu aja kok sewot, lha di atas langit masih ada langit gitu lhooooo...]

Dah ah.... hari ini hari biasa yang iseng aja dicatatkan di sini.

pendidikan arsitektur

Lagi seru di milis arsitektur 91. Pas lagi ngobrol soal pendidikan, eh ada artikel di sebuah majalah yang memberikan rating institusi mana yang favorit. Ternyata institusi gua sedikit di bawah yang selama ini dianggap kurang.

Jadi sedikit ramai. Tapi positif juga. Seneng juga beberapa temen pemikirannya bagus. Setidaknya ya tahu dirilah, kalau jadi orang yang punya kemampuan lebih itu, artinya juga tanggung jawabnya lebih.

Hueks... :-)

cuppy cake song

You're my Honeybunch, Sugarplum
Pumpy-umpy-umpkin, You're my Sweetie Pie
You're my Cuppycake, Gumdrop
Snoogums-Boogums, You're the Apple of my Eye
And I love you so and I want you to know
That I'll always be right here
And I love to sing sweet songs to you
Because you are so dear

http://www.cuppycake.com/cuplyric.html

bulan ini

bulan ini seharusnya asyik.
ada yg akhirnya "akan" terselesaikan dengan baik.
ada yg seharusnya dimulai.

waktunya pas. tinggal moodnya aja.

tentunya ada yang lain, sedang berjalan, di tengah-tengah.
jadinya yah, ada beberapa lainnya yang biasa-biasa aja.

tapi "mood" akan lebih baik kalau kita fokuskan pada apa yang kita bisa lakukan,  pada apa yang "telah" bisa kita lakukan, pada apa yang "akhirnya" telah kita miliki, setelah sekian lama... nggak peduli orang lain mau berpendapat apa, nggak peduli orang lain tahu apa nggak...

horeeeeeeeee!!! daripada bosen doang di meja kerja masing-masing.. mendingan memang baca blog gua yang nggak jelas ini.

"Tetapi, jika seterumu lapar berilah dia makan, jika dia haus berilah dia minum. Dengan berbuat begitu kamu menumpuk bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan. "
(Roma 12:20-21)

Berat sekali neh.

Kalau orang berbuat jahat padamu, tidak bisa jadi alasan untuk balas berbuat jahat padanya.

Kalau orang tidak penuhi janjinya (atau komitmen apapun), tidak bisa jadi alasan bagimu untuk tidak penuhi janjimu (atau komitmen apapun) padanya.

<< dalam hati: masak sih? tapi Engkau sepertinya memang ingin aku terus berada di situasi seperti ini >>

kecepatan berpikir

Ternyata dokter-dokter itu tulisannya jelek karena mereka cepat sekali berpikir, melakukan analisa, diagnosa, anamesa dan entah apa lagi namanya. Jadi, saking cepatnya mereka itu berpikir, kemampuan motorik mereka dalam hal tulis menulis makin lemah. Tangannya tidak lagi terlatih untuk menulis dengan baik.

Katanya sih begitu.

Well... jadi temen-temenku yang masih berkarya di arsitektur... betapa lambatnya kalian berpikir... Eh, salah... nggak gitu kok. Kita (dulu) justru dilatih untuk menyalurkan gagasan yang ada di kepala ke tangan ataupun alat gambar lainnya dengan lancar. Kalau dari otak ke kertas tidak bisa lancar, bubar semua rancangan kita.

Hehehe... Sekarang ini dengan bantuan keyboard komputer, berapa cepat sebuah tulisan bisa dibuat? Seberapa cepat dari otak bisa jadi suatu tulisan? Nanti bila lebih cepat lagi, maka kata-kata sah-sah saja melompat-lompat. Orang makin terburu-buru, makin pengin cepat saja menulis.

Duh... ini aku juga sedang mencoba secepat-cepatnya menulis posting ini. Tapi sepertinya belum terbukti apakah kata-kataku melompat-lompat :P

hubungan sebab akibat

Lagi-lagi hubungan sebab akibat. Aku ingat dulu waktu masih kuliah, bersama beberapa teman kami bikin firma arsitektur. Serunya, customer yang kami layani, beberapa saat setelah rumahnya jadi, si orang ini dapat promosi. Jadi kami bisa simpulkan, semua orang yang rumahnya kami desain, sukses karirnya.

Hehehe...

Kadang kita ini bener-bener nggak akan tahu apakah satu kejadian menyebabkan terjadinya kejadian lain, atau sekedar paralel secara kebetulan, atau keduanya disebabkan oleh penyebab yang sama.

Ngerti nggak? Nggak ngerti kan? Sama!

Markipul kalo gitu :-)

kerja bo'!

Beberapa hal membuatku berpikir lagi akhir-akhir ini mengenai kenapa sih kita bekerja? Ketemu temen-temen yang masih idealis, 'cukup berbeda' dengan orang-orang yang lebih sering aku temui sekarang.

Bekerja buat apa sih? Mestinya terus ciptakan nilai, kontribusi ke luar dari diri kita. Bayaran itu semestinya lebih kecil daripada kontribusi kita ke luar. Tetapi masyarakat di sekitar kita kadang bukan suatu lingkungan yang mudah. Ada orang-orang yang cepet kaya dengan cara yang salah. Itu contoh yang gampang dan ekstrim, tapi nggak cuma itu. Ada juga kan, orang-orang yang dapat posisinya secara mudah? Lha, lalu memangnya kenapa?

Kadang jadi ada konflik-konflik dari orang-orang yang karbitan ini. Sukar juga menjadi orang yang akomodatif di situasi seperti ini. Penginnya sih ya terima-terima saja, itu nasib mujurnya mereka kan? Tetapi kalau sampai mereka ini memutuskan secara kurang bijaksana hal-hal yang pengaruh ke diri kita?

Bayangkan kalau ada keputusan yang kurang bijaksana dari orang yang kurang berpengalaman, kadang jadilah orang-orang lain itu pembersih sampah. Atau sedikit di atas pembersih sampah, jadilah bekerja tidak nyaman, sebagai "fire fighter".

Kadang jadi stress sendiri... kadang jadinya menyerah juga nih. Yang kita lakukan kan sebatas bicara, jelaskan pemikiran kita. Selesai. Kalau mereka itu tidak mengerti juga, selesai dong tugas kita. Ini sikap untuk menolong kalau kita di posisi sebagai orang ketiga. Pasti deh, pernah lihat orang / teman kita dinilai kurang baik oleh boss kita. Padahal kita yakin sekali situasi yang sebenarnya terjadi bukan karena yang bersangkutan. Kadang malah sama sekali di luar kendali yang bersangkutan.

Kalau sebagai orang kedua? Setelah bicara dan mentah, ya pasang badan sajalah. Apapun yang kita lakukan toh akan percuma. Berharap saja, suatu waktu nanti orang-orang ini akan tambah bijaksana. Tentunya sambil merenung lagi, apa sih yang paling mendasar dari 'bekerja' itu? Mungkin saja memang ini semua akan jadi bagian yang tak terpisahkan dari 'bekerja', suatu kenyataan yang umum, seperti best practice yang akan jadi common practice gitu... atau mungkin ada lingkungan lain yang lebih pas untuk kita?

Kalau sebagai orang pertama? Bertanggung jawab penuh lah pada keputusan kita. Bisa jadi mengerti situasi secara menyeluruh itu memang sukar. Tetapi kalau memang itu perlu, lakukan dulu pengumpulan informasi dari banyak orang. Bentuk sikap dan pendapat yang benar dulu sebelum memberikan penilaian, sebelum mengambil keputusan.

Hmm... pernah nggak sih aku terima posisi karbitan? Pernah euy... memang setengah mati mengejar gapnya... Duh, jadi tambah sedih euy...