« March 2007 | Main | May 2007 »

pipo ledeng

Sebetulnya pengalaman yang umum kalau ada orang yang marah-marah ke kita, padahal masalahnya berasal dari dia / mereka. Seperti temenku yang pernah dipukulin karena ditabrak motor. Aneh, kan? Dipukulin karena ditabrak motor.

Nggak terlalu aneh juga sih sebetulnya. Atau mungkin lebih tepat, meskipun aneh, sering juga terjadi. Kalau di proyek-proyek IT, sering terjadi antara customer dengan vendor, karena customer tidak memahami dengan baik proses kerja atau karena vendor tidak bisa menjelaskan dengan baik apa saja yang dibutuhkan. Kadang terjadi juga di dalam satu tim.

Penyebab yang lain, selain komunikasi dan pemahaman, biasanya masalah lupa. Entah bawaan lahir, entah belum biasa dengan proses kerja.

Buat yang pernah merasakan, pasti tahu enak sekali rasanya jadi korban situasi seperti ini. Serasa dithuthuk nganggo pipo ledeng :-)

monyet

sekalian aja ada monyetnya....

moral of the story:
bagi yang bohong, kalo bohong jangan sering-sering.
bagi yang dibohongi, lindungi susu anda baik-baik.

hehehe... iseng!

pagi tadi

bicara ini dan itu. tapi belum sampai juga ke kesimpulan.
seperti kalimat yang belum selesai. tertunda sesaat.
kadang kata-kata yang sudah mulai tersusun akan hilang begitu saja, kadang bisa merangkai suatu cerita yang penuh.

cerita mana yang akhirnya bicara lebih jauh?

kadang rasanya sama saja.
memang sebetulnya tidak ada beda yang kasat mata.
kenapa begitu sulit memilih? karena masih ada pertentangan dalam hati.

paling bagus kita terima saja jeda ini. lupakan dulu.
sampai nanti ada yang pasti dari hati.

dulu pelayanan di mana?

Kadang aku bingung, sukar membedakan antara pelayanan dengan kerja sehari-hari. Lucu juga, kadang di Gereja ditanya pengalaman kamu dulu pelayanan di mana? Agak terasa aneh aja buat aku. Memang untuk menentukan seseorang bisa dipercaya melakukan pelayanan, perlu tahu pengalaman "kerja" sebelumnya gituh? Seperti dunia kerja aja.

Tetapi memang masa kecilku terbentuk di Sangkrah. Sebuah Gereja (GKI) di Solo sana. Sangkrah ini sepertinya terkenal karena kemampuan berorganisasinya. Seperti layaknya GKI, banyak pemikiran-pemikiran yang sangat rasional, definitif. Gereja lain jadinya bilang "Gereja Kurang Iman".

Salah satu yang aku masih ingat, Gereja itu adalah organisasi sekaligus bukan organisasi. Karena yang namanya organisasi itu dibentuk manusia, sedangkan Gereja itu dibentuk oleh Tuhan, tetapi juga ada organisasinya yang dibentuk oleh manusia. Nah lo... definisinya saja sudah cukup pusing. Apalagi waktu itu kan masih masa-masa remaja.

Di Sangkrah waktu itu anak usia remaja, kelas 1 SMP sudah dipercaya buat menjalankan kepengurusan. Dulu namanya KPSKR, Komisi Pemuda Seksi Khusus Remaja. Kenapa mesti Seksi Khusus? Karena sebetulnya yang boleh duduk di komisi itu Jemaat. Jemaat itu harus sudah dibabptis. Baptis itu di usia minimum 16 (kalau nggak salah). Padahal kan anak-anak remaja itu masih di bawah usia itu. Jadilah dibentuk Seksi Khusus. Seksi tapi diperlakukan sebagai Komisi.

Kalau ingat waktu itu, seru juga. Usia-usia SMP-SMA begitu, bacaannya Tager Talak, rapat analisa situasi, pembentukan program, bikin anggaran, bikin kalender kerja. Terus ada PRKPMP, itu rapat Pengurus Remaja Komisi Pemuda dan Majelis Pendamping. Kadang rapat mengambil tempat di Tawang Mangu, menginap. Dan pembahasan bisa sampai tengah malam karena memang beberapa hal sukar diputuskan.

Pokoknya seru banget. Apalagi kegiatannya lengkap. Mulai dari Persekutuan Minggu, Persekutuan Doa, Camping, Bible Camp, Leadership Training Center, kunjungan ke panti asuhan, ke panti jompo, ke anak cacat mental, ke rumah sakit, anjang karya / anjang sana (sekarang gua dengar istilahnya "live in"), plus event-event tertentu. Natal, Paskah, pertandingan persahabatan, dan lain sebagainya.

Lengkap sekali kegiatannya. Juga role-role yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan itu. Selama 6 tahun berada di lingkungan seperti itu, pasti akan terbentuk dengan sendirinya.

Belum lagi kalau ingat waktu itu, menaikkan jumlah anggota persekutuan dan jumlah kehadiran secara signifikan. Dari 120 jadi 200, dari 80 jadi 150.

Di satu sisi pengin mengakui semua yang pernah kita capai, di sisi lain ada yang bicara itu semua bukan pencapaian kita sebagai manusia. Tidak boleh sombong sama sekali.

Pencapaian-pencapaian masa lalu ini, semuanya kan tangan Tuhan yang bekerja? Bukan pekerjaan manusia. Atau bagaimana? Seperti konsep GKI mengenai Gereja sebagai organisasi tadi, ada dualisme di sini juga yah? Jadi kalau kita mau masuk dalam pelayanan yang baru, barangkali kita perlu siapkan cv kita.

Bingung dah pokoknya!

visi - misi?

just a snap shot.

waktu interview, dia ditanya visi misi kamu apa? jawabannya blablabla...
kalau gua ditanya, jawaban gua kayaknya:

moving out from jakarta in two years... hehehe!

manage your finance plz...

Last night I just told my friend... How I passed my "particular" phase in life. I quit a company without zero saving (nearly).. and then in about two years I can buy my car. Not a full payment, but even the down payment were a huge amount for me at that time.

Yes I moved and I had my increase, but I also  choose a job with lower pay afterward (due to an expectation of performance bonus, which was unrealized).

Sometimes the problem is not how much the company pay you. But how we manage our finance. Even further, I believe that God gives us our financial situation to be managed. Set your target, make yourself do your plan. Push! Don't give up, put your best effort to achieve your goal!

What I write above is not an excuse to let you get lower salary. I myself have high standard in how people appreciate other people, which... in some way, is through financial rewards. Do both. You deserve to be well paid, but also, you have to manage what you have been given.

[note: well-paid is very different from over-paid]

There were times when I felt funny that some of my friends with higher income borrow some from me. But that's life. Not everyone is talented in managing their own assets. So, I appreciate how we can trust each other and how they were very open to let me help.

Life goes on whether you have a higher salary or not. People with lower salary than you get married, make and raise their children [:-)]. For me, these all related to the quality of life they have chosen. But which comes first, actually? You want (or need) a higher quality of life, then you must seek higher salary? Or because you have an increase in your salary, then you can afford a higher quality of life?

Maybe... It's God given question for us to address.

dulu asteba sekarang astriba

Sebelum pulang inginnya posting di sini. Mari berperkara, karena perkara yang positif itu konstruktif  (*).

Tetapi karena yang tersayang minta dijemput, dan berdasarkan estimasi seorang PM, tiga menit lagi adalah deadline diriku harus cabut, apbolbu astriba deh (**).

*: positif atau negatif itu subyektif lah yau!
**: apa boleh buat, asal isteri bahagia.

sekolah filosofi

Lama nggak nulis blog lagi. Juga banyak rencana belum dilakukan.

Sekarang ini simpel saja, badan sedang sakit, keluar untuk cari makan siang, ternyata hujan deras di luar sana. Jadinya ya ke warnet saja. Menunggu hujan sedikit reda.

Sementara anak-anak edoen lagi rame, kotjak kere di milis... sedang ada rencana ini dan itu di perusahaan... sementara aku juga punya rencana-rencana sendiri. Nggak terlalu peduli dengan ini dan itu. Tapi juga tidak benar-benar tidak peduli. Tentunya lebih seru ketawa-ketawa di milis edoen daripada pusing-pusing mikirin rencana tahunan.

Ya secukupnya lah. Apa yang penting buat diriku sendiri, selama ini sepertinya tidak cukup beririsan dengan apa yang penting buat orang-orang lain. Bisa jadi memang sudah demikian adanya. Tidak semua orang dikaruniai cukup kemampuan untuk memahami kompleksitas. Makin kompleks seseorang berpikir, artinya makin sendiri dia ini... hehehe... entah statement ini nyambung apa tidak... kalaupun nyambung, kok arahnya jadi ke sana?

Jadi mari kita masuk sekolah filosofi lagi, kita pilih thesis kita: kompleksitas membuat dirimu sepi.

Sejujurnya, lebih seru menulis mengenai filosofi. Daripada mengenai manajerial, bisnis, ataupun project management. Enak tuh bisa merenung dan merenung. Bertanya pertanyaan yang sederhana tapi jawaban yang sulit (alih-alih pertanyaan sulit tapi jawaban sederhana :-)). Lalu tiba-tiba datang saatnya tercerahkan. Suatu jawaban yang ditamukan akan mewarnai, mencahayai sekian puluh, sekian ratus area kosong.

Hmmm... kok jadi pengin cari buku puisi lagi yah? Hehehe... dah ah!