« September 2006 | Main | November 2006 »

cukup

Kalau kamu sendiri tidak merasa cukup, bisakah kamu mencukupi orang lain? Kalau kamu tidak membuat orang lain cukup, bisakah kamu mengharapkan orang itu mencukupi orang lain lagi?

another crossroad

I am taking my decision...

Well, by the way, another favourite fruit kid is leaving.

I know what I am doing. He know what he is doing. So, go for it. Why not?

Leading is quite different from being the best

Apakah kamu benar-benar tahu apa yang kamu pikir kamu tahu mengenai aku? Apakah kamu tahu apa yang sebetulnya aku tahu dan apa yang aku belum tahu? Apakah kamu tahu apa yang kamu lebih tahu daripada aku?

Beberapa orang sukar mengakui bahwa orang lain lebih tahu daripada dirinya. Beberapa orang terjebak dengan kepandaiannya sendiri, kemudian menutup kemungkinan bahwa dia masih perlu belajar dari orang lain. Beberapa orang terlalu sombong untuk membiarkan orang lain bekerja lebih baik daripada dia. Juga terlalu sombong untuk membiarkan orang lain bekerja lebih keras daripada dia. Kalau sudah begitu, apakah orang seperti ini bisa memberikan apresiasi yang cukup bagi orang lain?

Pertanyaan lebih lanjut, apakah bisa pemimpin seperti ini? Jawabanku sih, bisa-bisa saja kok. Tergantung pemimpin seperti apa definisi kita. Lupa persisnya apa yang dulu pernah aku pelajari, tapi intinya sih, ada pemimpin yang memimpin karena dia menjabat sesuatu, berbeda dengan pemimpin yang sejati. Pemimpin yang sejati belum tentu yang punya kedudukan tinggi. Bisa saja justru dari orang yang terbawah.

Aku sungguh berharap semoga saja pemimpin di dunia ini, tipe yang semata mendapatkan kekuasaan / power nya berdasarkan kedudukan nantinya akan bergeser atau akan jadi bahan manipulasi dari pemimpin sebenarnya. Paling tidak, jadi bahan pengamatan yang menarik :-)

Apakah bisa seorang pemimpin tidak tahu apa yang anak buahnya tahu? Bisa saja. Yang penting adalah kesadaran dan sikap, bahwa tidak semuanya seorang pemimpin itu lebih tahu. Tidak harus seorang pemimpin lebih hebat segalanya daripada anak buahnya. Tidak harus juga, seorang pemimpin tetap memimpin kalau memang secara kepentingan yang lebih tinggi dia sadar bahwa ada pemimpin lain yang lebih tepat.

Jangan lupa bahwa Kristus pun melakukan kepemimpinan dengan membiarkan orang lain berada di atas diriNya. Paradoks bahwa yang terbesar sebetulnya adalah yang terkecil, sangat bisa diterapkan di sini.

Di beberapa organisasi yang aku pernah masuki, termasuk yang sekarang ini, sebetulnya ada beberapa pemimpin sejati. Yah, sayangnya harus diakui, jumlahnya sangat sedikit :-)

Dah ah.... nulis dengan bahasa sulit begini, apa ada gunanya kalian baca?

So? The recent future.

So... where's your mail, big guy? This one seems not quite a big guy, actually :-)

I am waiting to see what I will decide in recent future. Let me be reflective, let me have some quiet moments. I will do what I have to do. Back to my highest values. Let me be prepared.

Thanks anyway!

makan tuh ...

Makan tuh prinsip!

Nah lo... berani nggak melepaskan titik aman, entah apa yang jadi pegangan / tempat berlindung sekarang ini demi sebuah prinsip?

Yah... entah itu posisi, uang, kesehatan, teman, kenyamanan hidup saat ini, kemudahan, pekerjaan, karir?

Belakangan aku merasa sudah mulai luntur. Sekarang mungkin saatnya Yang Di Atas Sana mengingatkan lagi. Tapi juga sekarang mesti lebih sadar, benar tidak prinsip-prinsip yang aku pegang ini. Mesti lebih hati-hati. Mesti perhatikan cara pencapaian. Vocabulary sudah makin banyak kok, tentu sejalan dengan usia yang makin bertambah.

Mesti bersyukur juga kalau sekarang ada teman untuk diajak berdiskusi. Kadang memang satu nilai berbentrokan dengan nilai yang lain. Yang mungkin tidak kalah pentingnya.

Jadi ya gimana? Mesti timbang-timbang lebih matang. Betul tidak keputusan-keputusan yang aku akan ambil ini? Kalau benar ya tetapkan saja langkah-langkah berikutnya. Percayakan saja bahwa hidup ini bukan sekedar bernapas, makan dan minum. Ada nilai-nilai yang mesti dijunjung tinggi. Kalau tidak, ya apa bedanya dengan binatang dan tumbuhan?

Mari kita makan saja prinsip!